Rudi “Menyulap” Limbah Jadi Pakan Ternak

Sampah makanan kerap kali menyisakan problem lingkungan. Namun, di tangan Rudi Murodi sampah makanan dari sejumlah pasar dan minimarket diolah menjadi pakan ternak dengan kualitas tak kalah dari buatan pabrik.
Usaha pembuatan pakan ternak ini bermula dari keprihatinannya dengan mahalnya pakan ternak sepanjang tahun 2010-2011, hingga berakibat banyak peternak di Depok yang tidak sanggup lagi membelinya.
Melihat kondisi itu, ia pun putar otak dengan belajar membuat pakan secara otodidak. Tujuannya, dengan membuat pakan ternak ia berharap bisa membantu para peternak yang kesulitan memperoleh pakan.
Dengan modal yang ada, Rudi pun membeli bahan baku untuk pembuatan pelet seperti, tepung jagung, tepung ikan, konsentrat dan sebagainya. Bahan baku yang cukup mahal di pasar, membuat biaya produksi yang dikeluarkan Rudi menjadi cukup besar. Terlebih, Rudi sendiri tidak tega menjual hasil produksinya terlalu tinggi.
“Saya tidak tega kalau jual terlalu mahal. Peternak kalau biaya pakannya sampai 70 persen, dia tidak akan untung. Maksimal biaya pakan yang dikeluarkan peternak 50 persen, itu juga peternak untungnya tipis. Belum lagi dipotong untuk bayar pekerja dan biaya lainnya,” ujar Rudi kepada BisnisUKM.com di tempat produksinya kawasan Sukmajaya, Depok, Ahad (5/6/2016).
Dengan keseriusannya, Rudi yang alumni Fakultas Teknik Universitas Pancasila kembali belajar membuat pakan ternak. Tapi, kali ini dari limbah makanan. Mulai dari limbah ayam goreng tepung, limbah bakso, dan limbah ikan dibuatnya menjadi pelet. Pakan buatannya itu kemudian diberikan ke ikan. Namun, bukannya sehat, ikan-ikan yang mengkonsumsi peletnya justru mati mendadak.
“Limbah makanan itu semua saya campur dan giling tanpa dijemur. Kemudian saya cetak. Akhirnya ikan pada mati, karena sisa makanan itu masih terdapat unsur amoniak. Harusnya, difermentasi dan diberi probiotik,” jelasnya.
Rudi tak menyerah begitu saja. Lewat proses yang tak kenal lelah, ia pun bisa membuat pakan ternak sendiri.

Kerja Keras Diapresiasi Swasta dan Pemerintah 

Kesabaran Rudi dalam bereksperimen membuatnya tidak hanya bisa memproduksi pakan ternak berkualitas. Pada 2013 kerjanya juga diapresiasi pihak swasta. Dari program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan swasta ia mendapatkan mesin penepung. Tidak hanya itu, perusahaan itu juga memberikan makanan seperti nugget, sosis, burger, ayam goreng, dan roti yang tidak dimakan konsumen untuk diberikan kepada Rudi.
“Itu bukan makanan bekas. Tapi, makanan utuh yang belum dimakan,” jelasnya.
Sampah makanan itu kemudian disortir kembali untuk memisahkan mana sampah organik dan anorganik. Sebab, terkadang sampah makanan itu berada dalam kemasan. Pemilahan juga dilakukan untuk memisahkan mana makanan yang memiliki unsur karbohidrat dan mana makanan yang memiliki kandungan protein.
Untuk roti, ayam, dan sosis biasanya diolah lagi jadi pakan ikan. Sedangkan sampah sayuran diolah jadi kompos dan pupuk cair.
“Setelah dipilah, kemudian difermentasi selama 12 hari. Lalu digiling dan diberi probiotik. Habis digiling, ditepung dan selanjutnya ditentukan kadarnya. Selanjutnya dimixer untuk dicetak,” urainya.
Begitu pun dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Rudi juga diberikan mesin dengan kemampuan produksi 350 kilogram per jam. Bantuan mesin ini sangat membantu pekerjaan Rudi. Sebab, pembuatan pakan ternak membutuhkan proses panjang. Dari limbah hingga menjadi pelet saja setidaknya dibutuhkan waktu hingga 20 hari.
“Kalau dari Pemkot biasanya bantuan berupa penyuluhan,” tuturnya.

Jual Pakan dengan Harga Terjangkau 

Keberhasilan Rudi tidak membuatnya aji mumpung dalam menerakan harga pakan. Ia tetap menjualnya dengan harga terjangkau. Untuk pelet tetap dijualnya Rp 4.000 per kilogram. Harga itu jauh lebih murah dibandingkan harga toko yang mencapai Rp 10 ribu per kilogram. Kompos biasanya dikonsinyasikan ke teman petani seharga Rp 1000 per kilogram, dan pupuk cair dijualnya hanya Rp 5000 per liter.
“Kita jual ke teman-teman peternak dan petani secara curah. Kalau partai besar pernah juga kita kirim ke Indramayu, Karawang, bahkan hingga Kalimantan,” sebutnya.
Dengan harga yang cukup murah, tak heran pakan buatan Rudi kini makin diminati. Produksinya pun makin bertambah. Ia yang dulu hanya mampu memproduksi pakan ternak 50-100 kilogram sehari, kini mampu memproduksi pakan hingga 1 ton dalam sehari.
“Kalau omzet bisa Rp 30 juta sebulan. Bahkan, kalau cuaca bagus bisa lebih dari itu,” katanya.
Kini, Rudi juga tidak hanya ingin sukses sendiri. Ia juga bersedia membagi ilmunya dengan mengajarkan orang lain secara gratis. Keahliannya juga diajarkan kepada warga sekitar yang kemudian direkrutnya menjadi karyawan. Tak kurang, 10 karyawan yang merupakan warga sekitar kini membantu usahanya.
“Saya berharap makin banyak orang yang bisa. Kalau perlu, tiap kecamatan punya satu tempat pengolahan limbah makanan seperti ini,” tandasnya. (Sumber: Tim Liputan BisnisUKM/bisnisukm.com)
Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *