Perempuan  Bukan Dalang Tetapi Agen Pemberantasan Korupsi

AcehNews.net|BANDA ACEH – Istri dan atau perempuan bukan lah dalang penyebab terjadinya korupsi. Tetapi perempuan merupakan senjata ampuh untuk pemberatasan korupsi di tanah air.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Sekolah Anti Korupsi (SPAK) melakukan aksi damai dengan melibatkan kaum perempuan di Aceh guna mengampanyekan semangat anti korupsi  terutama di kalangan mahasiswa dan ibu rumah tangga dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi.

Aksi yang mengusung tema “Kekuatan Perempuan, Inspirasi Perubahan. Ayoo Jujur Mulai dari Sekarang” tersebut berlangsung di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh pada Kamis, (21/04/2016) yang dijaga ketat belasan polisi dari Polresta Banda Aceh.

Tujuan peluncuran gerakan ini melibatkan banyak perempuan untuk ikut berpartisipasi dengan melindungi dirinya dari korupsi dan menjadi agen pencegahan korupsi dengna cara menyebarluaskan pengetahuan tentang modus dan peluang yang berpotensi korupsi serta bagaimana konsekuensi hukumnya.

Aksi turun jalan itu pun dimulai hari ini, dimana puluhan perempuan berkaos putih bertuliskan “Saya Perempuan Anti Korupsi” membawa kertas bertuliskan beberapa pesan edukasi dan kencaman, antaranya, “Berani Korupsi Berani Mati”, “Kasih Hadiah ke Pegawai Negri karena Jabatannya itu Korupsi”, “Jujur Sendirian Berat Kawan #Yok Jujur Barengan,”,  dan “Nyontek = Curang, Curang = Korupsi”.

Koordinator Lapangan, Rahayu Fujianti, mengatakan, aksi damai yang kesemuanya menurunkan kaum perempuan ini dalam rangka Hari Ulang Tahun gerakan “Saya Perempuan Anti Koruspsi,” yang telah diluncurkan oleh KPK dan Sekolah Anti Korupsi Aceh (SPAK) pada 21 April 2014 lalu.

“Kami ingin mengajak perempuan Aceh untuk terlibat aktif dalam gerakan yang sudah kita bangun ini, karena sangat besar peran perempuan dalam terjadi tidaknya sebuah tindak pidana korupsi,” jelas Rahayu Fujianti kepada AcehNews.net di Banda Aceh

Rahayu Fujianti menambahkan perempuan sebagai aktor utama agen pencegahan korupsi, sebagai istri dan sebagai ibu, perempuan adalah tokoh sentral dalam keluarga yang memberikan andil sangat besar terhadap arah perkembangan suami maupun anak-anak mereka.

“Kita percaya bahwa kekuatan perempuan akan memberikan kontribusi yang luar biasa bagi upaya perlawanan terhadap korupsi khususnya dalam hal pencengahan yang bisa dilakukan di dalam keluarga,” ujarnya.

Misalnya dengan memberi pemahaman kepada anak-anak bahwa korupsi itu bukan mulu uang, tetapi korupsi waktu, tidak bersikap jujur dalam segala hal juga akan membawa diri kepada tindakan korupsi.

Selain orasi, aksi damai ini juga diisi dengan pembagian alat peraga anti korupsi berupa baju kaos, stiker, serta beberapa permainan game anti korupsi. Masa berharap dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan pengetahuan, penyadaran serta keterampilan yang dibutuhkan dalam menyebarluaskan gerakan nasional “Saya Perempuan Anti Korupsi”.

Di tempat yang berbeda dan waktu yang sama, salah seorang mahasiswa Teknik Sipil Unsyiah yang juga Duta Mahasiswa GenRe Aceh 2015, Almira Hilal yang dimintakan tanggapannya mengatakan, bahwa perang istri dan ibu sangat besar untuk pencegahan terjadinya korupsi.

“Saya menerapkan prilaku jujur sejak usia dini semua karena bimbingan ibu. Misal saat jajan saya meminta uang sesuai kebutuhan saya dan selalu mengembalikan uang kembalian. Begitu pun jika ibu menitipkan uang untuk belanja, saya jujur menyampaikan berapa harga barang dan mengembalikan kembaliannya,” kata Almira.

Kemudian lanjut Almira, bicara korupsi bukan mulu dengan uang, tetapi juga korupsi waktu misal berupaya datang tepat waktu, tidak mengambil yang bukan hak kita, dan menjadi seorang yang amanah.

“Tidak mengambil yang menjadi hak adik saya dan menjadi pribadi yang amanah, menurut saya akan membingkai diri saya untuk berprilaku jujur di masa yang akan datang. Dan ini juga penting untuk bekal saya nanti menjadi istri dan sekaligus ibu bagi anak-anak saya, menjadi agen pemberantasan korupsi minimal di dalam keluarga dan lingkungan sekitar saya,” tutur Almira.

Ketika ditanya apa dia berani mengingatkan kedua orangtuanya yang bekerja agar tidak korupsi dengan cepat Almira menjawab “berani” dan itu sudah dia lakukan.

“Saya tidak mau sedih seperti teman saya yang ayahnya tersangka korupsi. Dan saya sampaikan itu kepada ayah saya, saya bilang sama ayah kalau saya sudah cukup bahagia dengan kehidupan seperti sekarang ini,  dan buat apa hidup mewah tetapi dari hasil korupsi,” demikian kata Almira. (oga/saniah ls)

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *