‘Ledakan Boom’ Covid-19: Meninjau Mereka yang Positif dari Persepektif Psikologis

Oleh: Siti Meisarah Ridzkina (Mahasiswi Fakultas Kedokteran Program Studi Psikologi Semester 2, Unsyiah)

AcehNews. Net – Keadaan dunia saat ini sangat mengkhawatirkan dengan pandemi Coronavirus (Covid-19) yang semakin banyak korban terinfeksi oleh virus ini, serta banyak efek yang ditimbulkan dari wabah ini. Tidak hanya dari segi kesehatan fisik saja, tetapi juga kondisi psikis individu.

Covid-19 atau virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang siapa saja, baik bayi, anak-anak, ibu hamil, maupun ibu menyusui. Banyaknya informasi yang beredar mengenai virus Corona, bisa memengaruhi kesehatan mental individu.

Virus Corona yang terus merebak secara global di seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia, tidak hanya menimbulkan gejala penyakit fisik saja, tetapi juga perlu diwaspadai dampak psikologisnya.

Psikolog mengatakan, bagi penderita, dampak psikologisnya bisa berupa perasaan tertekan, stress, cemas saat didiagnosis positif Covid-19. Penderita bisa merasakan cemas yang sangat berlebihan ketika identitasnya bocor kepada masyarakat luas sehingga berdampak pada kehidupan sosialnya seperti dikucilkan dari lingkungan sekitar.

Dalam kondisi yang seperti ini, reaksi penderita bisa tidak jujur dan menutup riwayat penyakit yang ia derita, ini juga akan menjadi masalah besar yang nantinya akan berdampak pada penularan virus Corona yang semakin meluas.

Selain itu proses isolasi juga berdampak bagi kondisi psikis penderita yang terinfeksi virus Corona. Psikolog Klinis Dewasa, Yulius Steve, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bila seorang diisolasi dalam waktu beberapa hari bisa saja tidak akan muncul gejala depresi. Namun bila diisolasi terjadi tiga bulan ke atas, risiko orang terkena depresi semakin besar.

Prosedur isolasi tak bisa dilepaskan dari penanganan medis untuk kasus wabah, hal ini dilakukan guna mengurangi penyebaran virus Corona, karena isolasi bertujuan untuk membantu mencegah penyakit yang dapat menyebar melalui udara.

Bicara prosedur isolasi, pasien yang under investigation, suspect, atau bahkan sudah terjangkit Covid 19, harus ditempatkan di ruangan khusus rumah sakit yang menjadi rujukan. Ia juga
harus mendapatkan pengawasan ketat tenaga medis. Pasien tak diperbolehkan melakukan kontak dengan orang lain. Dengan demikian, interaksi dengan dunia luar harus terputus sementara.

Kondisi ini ternyata akan berdampak pada kesehatan mental pasien. Ketika manusia diisolasi, apalagi dalam kondisi yang tidak sehat, lalu dia tahu persis lewat berita bahwa virus Corona itu menjadi wabah dunia, sudah pasti sebagai individu dia merasa takut dan pasien juga akan merasa dirinya diasingkan saat berada di ruang isolasi. Lalu timbulah perasaan kesepian. Segala bentuk emosi tersebut kemudian akan memicu hormon dopamin pada otak.

Kalau hormon dopamine meningkat levelnya, maka akan menyebabkan kecemasan, trauma, dan paling bisa menyebabkan gejala psikotik munculnya halusinasi. Nah, ketika kadar hormon dopamine meningkat maka otomatis kadar hormon serotonin menurun, padahal hormon serotonin lah yang dibutuhkan untuk menjaga tingkat stres individu.

Pada tubuh, reaksi yang akan timbul ketika kadar hormon serotonin ini menurun bisa memengaruhi sistem pencernaan manusia. Nah akhirnya terjadilah komplikasi, sudah terkena
virus Corona adanya flu, sesak napas ditambah lagi dengan perasaan cemas, takut, diasingkan lalu level serotonin rendah.

Jika sudah seperti ini, dikhawatirkan pasien yang terinfeksi virus Corona semakin lemah dan mereka merasa tidak berharga dan akhirnya hal-hal yang kita tidak inginkan terjadi dan juga akan berdampak pada proses penyembuhannya. Oleh karena itu sangat dibutuhkan pendamping psikologis bagi pasien yang terjangkit virus Corona.

Seseorang butuh untuk mencurahkan dan mengekspresikan hatinya agar lebih tenang dan juga pasien butuh penguat, guna kesembuhannya. Sementara itu, interaksi tetap dibutuhkan agar kadar dopamine tidak terlalu tinggi sehingga tidak timbul cemas, trauma, dan depresi.

Dosen Program Studi (Prodi) Psikologi Fakultas Kedokteran(FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Rini Setyowati mengungkapkan, bahwa guna mengantisipasi dampak psikologis terhadap Covid-19 ini, perlu strategi coping adaptif yaitu cara mengatasi masalah yang adaptif, baik penderita maupun masyarakat luas.

Perasaan khawatir, tertekan, dan cemas ini apabila dapat diolah dengan tepat oleh individu maka bisa mengarahkan individu tersebut pada reaksi melindungi diri dengan tepat dan meningkatkan religiusitas individu. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *