Peserta Lokakarya Meliput Daerah Ketiga II (MDK II) dan 25 peserta pelatihan jurnalistik Lembaga Pers Dr Soetomo dari Timur Leste di Aula Kantor BP Redd+ Jakarta, beberapa waktu lalu

Pesan Singkat dari REDD+

Apa jadinya jika suhu bumi meningkat di atas 2 derajat Celcius? Jawabannya, es di Kutub Utara akan mencair. Bagaimana jika hal ini terjadi dan apa dampaknya bagi Indonesia?  Jawabanya, maka lebih dari 17 ribu pulau di Indonesia terancam akan tenggelam.

Kepala Badan Pengelola REDD+, Heru Prasetyo memaparkan dampak yang terjadi akibat perubahan iklim yang dirasakan masyarakat dunia. Khususnya di Indonesia, kemarau yang semakin panjang dan musim hujan yang semakin pendek. Kemarau yang semakin kering dan hujan intensitasnya semakin tinggi yang berakibat bencana banjir.

Menurut pria dewasa yang mengenakan jas hitam di depan 10 peserta lokakarya Meliput Daerah Ketiga II (MDK II) dan 25 peserta pelatihan jurnalistik Lembaga Pers Dr Soetomo dari Timur Leste yang mengunjungi kantor BP REDD+ di Jalan Sudirman, Gedung Menara Mayapada, Lantai 15, Jakarta Pusat, Selasa (19/8), terjadinya revolusi industri pada abad 18, telah berdampak pada perubahan iklim. Suhu bumi terus meningkat, akibat ketidak hati-hatian dalam menjaga alam.

“Perubahan iklim terjadi karena kita kehilangan kehati-hatian dalam menjaga alam,” tutur tangan kanan Kuntoro ini, kepada 35 jurnalis dari media cetak dan elektronik dari berbagai provinsi di Indonesia dan Negara Timur Leste.

Tak lama Heru Prasetyo di ruang pertemuan itu,hanya sekitar setengah jam dari pukul 09.30-09.60 WIB. Namun pertemuan singkatnya dengan para peserta LPDS telah meninggalkan pesan singkat. “Jika temperatur dunia naik di atas 2 derajat Celcius, kalau itu terjadi, es di Kutub Utara akan mencair. Akibatnya gelombang laut akan naik, karena Indonesia sangat dekat dengan Kutub Utara, maka pulau-pulau di Indonesia akan tenggelam,” tegasnya.

Lanjut dia, masyarakat dunia yang telah merasakan dampak dari perubahan iklim, bersama-sama menyelesaikan masalah global ini dengan pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan dan mengedepankan kelestarian alam.

Untuk itu, BP Redd+ yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2013, mencoba merubah paradigma pemeritah, masyarakat, pengusahan, dan para peneliti. “Media adalah agen paling penting dalam action progretif merubah paradigma tersebut,” tegasnya lagi.

Hal yang sama juga diutarakan Penasehat Bidang Perubahan Iklim dan Kehutanan Kedutaan Besar Kerajaan Norwegia di Indonesia, Nita Irawati Murjani. “Penting sekali menuntut kridibilitas media dan peranan media untuk public education”.

Indonesia dianugerahi hutan dan lahan gambut yang luas. Hutan dan lahan gambut Indonesia menyumbang oksigen untuk masyarakat dunia. Namun luas tanah Indonesia sekitar 193 juta hektare dan kawasan hutan seluas 103 juta hektare, amat disayangkan separuhnya sudah rusak.

“Kita harus menambah banyak jumlah hutan. Mengutip pernyataan yang disampaikan aktifis lingkungan dari India, bahwa 50 persen masalah perubahan iklim akan bisa diselesaikan kalau ada penambahan hutan,” kata Deputi Bidang Perencanaan dan Pendanaan BP REDD+, Agus Pratama Sari.
Laki-laki kelahiran 2 Agustus 1966 yang baru berulang tahun ini menambahkan pernyataannya dua peristiwa utama yang mempengaruhi perubahan iklim di Indonesia, yaitu kebakaran hutan dan pemucatan terumbu karang (coral bleaching) dampaknya terjadi pemanasan global. Jika ini terus berlangsung, suhu bumi naik di atas 2 derajat Celcius, maka es di Kutub Utara akan mencair, dan Indonesia akan tenggelam.

Dampak Perubahan Iklim tidak saja dirasakan pada sektor pertanian, berkurangnya hasil panen yang mengancam ketahanan pangan, tetapi juga berdampak pada sektor kesehatan yaitu penyebaran penyakit demam berdarah, malaria, dan diare.

“Dulu saya pernah menulis, apa dampak yang terjadi akibat perubahan iklim di Indonesia. Dan kini prediksi saya telah benar terjadi,” tutupnya.

Sekitar 12 bulan lalu, salah satu media online di tanah air memberitakan pernyataan yang sama tentang rasa ketakutan yang sama tentang akan tenggelamnya pulau-pulau di Indonesia jika es di Kutub Utara mencair.

“Indonesia sangat terpengaruh pada perubahan cuaca. Jika Kutub Utara esnya mencair, akan membuat sebagian pulau kita mengecil, sebagian lagi tenggelam. Belum lagi berbagai dampak lainnya,” kata Staf Ahli Bidang Teknologi Hankam Kementerian Ristek, Teguh Rahardjo  pada Konferensi Internasional tetang Aplikasi Teknologi Antariksa untuk Perubahan Iklim, mengutip pemberitaan media online tersebut sekitar 12 bulan lalu di Jakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com