Ini Mengapa Aceh Singkil dan Nagan Raya Slalu Dilanda Banjir

BANDA ACEH – Aceh yang memiliki sekitar 211 ribu hektare lahan basah. Tetapi dua wilayah di Aceh yang memiliki lahan basah saat ini dan sudah mengancam terjadinya bencana, yaitu Singkil dan Nagan Raya.

“Itu digempur oleh sektor perkebunan sawit,” kata Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh, Muhammad Nur kepada wartawan, di Banda Aceh, beberapa hari lalu.

Dirincikannya, di Nagan Raya terdapat delapan perusahaan besar perkebunan sawit, yang  melakukan pengalihan lahan basah menjadi kering.  Pengalihan ini, bisa berpotensi bencana besar, akibat  berkurangnya daerah-daerah penyerapan sumber air.

Sedangkan di Aceh Singkil, katanya Pemerintah daerah setempat, dinilai bangga dengan adanya perkebunan sawit, karena bisa dijadikan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Tanpa memikirkan ancaman bencana yang terjadi kedepan.

Selain dua wilayah itu, pengalihan lahan basah juga terjadi di Aceh Besar dan Banda Aceh. Namun, pengalihannya lebih kestruktur pembangunan perkampungan dan kota. Banyaknya lahan basah di Aceh Besar dan Banda Aceh, itu katanya bisa dilihat dari penamaan sejumlah gampong di dua kabupaten/kota itu yang mengawali dengan kata “lam” diterjemahkan ke bahasa Indonesia itu dalam.

Sehingga menujukkan kawasan tersebut dulunya merupakan wilayah yang banyak rawa-rawanya atau payau, itu disebut juga lahan basah. Namun, beriring berjalannya waktu, serta bertambahnya populasi penduduk, sejumlah lahan basah itu didirikan bangunan-bangunan baru.

“Asal usul yang kita ketahui, kota Banda Aceh dulu daratannya hanya 30 persen saja. Tapi sekarang 2015, sudah jadi sebaliknya 30 persen lahan basah, 70 persen lainnya sudah berubah jadi perkampungan dan kota, dengan berdirinya sejumlah gedung baru,” jelasnya.

Menurut M. Nur, potensi terjadinya banjir yang sangat parah disejumlah daerah, itu terjadi karena banyak pengalihan lahan basah kelahan kering. Menyangkut dengan wilayah pesisir yang merupakan lahan basah, itu banyak ditanami tanaman bakau.

“Kalau tanaman bakau tersebut tidak mempengaruhi banjir, tapi bisa menghambat terjangan ombak, hingga mencapai daratan. Untuk itu, kami meminta pemerintah supaya menata dengan sebaik-baiknya lahan basah tersebut, demi kenyamanan, serta ancaman bencana kedepan,” kata M. Nur.

Semakin berkurang lahan basah di wilayah Aceh, dinilai potensi banjir disetiap daerah akan bertambah, setelah diguyur hujan lebat, jika Pemerintah tidak menatanya dengan baik. (agus)

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *