Ini Kata Pakar Soal Gerhana Matahari di Aceh

SINABANG | AcehNews.net – Pada zaman Belanda, pada 1929 dahulu, Aceh pernah mendapatkan fenomena gerhana matahari total dan itu merupakan gerhana matahari total terakhir yang terjadi di Aceh. 

Hingga sekarang, kejadian itu belum pernah terjadi kembali dan gerhana matahari total itu kemungkinan akan dapat terjadi lagi di Aceh pada 2130 mendatang.

Hal ini dikatakan pakar yang merupakan Anggota BHR Aceh sekaligus Dosen Fisika FMIPA Unsyiah, Suhrawadi yang didampingi Kabid Urais dan Binsyar Kanwil Kemenag Aceh, Hamdan serta Kasubbag Humas, Nasir, Rabu (25/12/2019).

“Gerhana matahari cincin belum pernah terjadi sebelumnya, di Indonesia pernah terjadi di Bengkulu pada Februari 1988, kejadian pagi hari saat matahari kelihatan di Bengkulu kita di sini matahari masih belum terbit,” ungkapnya.

Menurutnya, gerhana matahari cincin ini merupakan momen yang sangat penting untuk masyarakat Aceh. Hal ini merupakan fenomena pertama yang melintas dalam kurun waktu 150 tahun.

“Kalau kita hitung dari gerhana matahari total itu ada sekitar 90 tahun lalu kejadiannya, itu bisa kita katakan sangat jarang terjadi. Sebenarnya gerhana matahari itu terjadi setiap tahun, tapi tempatnya saja beda. Gerhana matahari total tahun lalu di Amerika Serikat,” jelasnya.

Dirinya menuturkan, melihat gerhana ini menjadi penting dari banyak sisi seperti sisi sains untuk kalibrasi waktu, kalibarisi jarak antara bumi dan matahari apakah jarak matahari dan bumi berubah atau tidak dan kemudian kaibrasi ukuran dan posisi benda-benda langit.

“Astronomi itu ilmu Islam, ilmu dalam Islam yang pertama kali berkembang adalah astronomi. Jadi dalam hal ini berbagai fenomena itu kita gunakan untuk memperkuat kembali penguasaan astronomi di kalangan kita,” ujarnya.

Selain itu, pada 26 Desember 2004 silam Aceh mendapatkan tsunami dan pada 26 Desember 2019 besok kita mendapatkan gerhana matahari cincin. Ini merupakan sesuatu hal yang terjadi mirip pada zaman Nabi Muhammad SAW dahulu.

“Cuma saat zaman Nabi terjadi bersamaan, putra Nabi bernama Ibrahim meninggal saat terjadi gerhana matahari total, artinya zaman Nabi ada kejadian yang terjadi bersamaan dengan kejadian lain tapi Nabi mengatakan tidak ada hubungan antara meninggal seseorang dengan gerhana, jadi kita tidak boleh kaitkan kejadian gerhana dengan ramalan,” demikian tutupnya. (Hafiz)

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com