1000 Kekaguman Untuk Sri Lestari  

Mengendarai sepeda motor dengan jarak sekira  2.500 kilomerter dari Sabang hingga ke Jakarta dengan keterbatasan yang dimiliki, tidak semua orang bisa melakukannya. Tetapi bagi penyandang paraplegi (penurunan motorik atau fungsi sensorik dari gerak tubuh) dari Klateng, Jawa Tengah ini, ia harus mampu melakukannya karena ada kebaikan yang ingin dia suarakan.

Raungan “kuda besi” dengan rakitan khusus ini mulai terdengar. Sri mulai memanaskan kendaraan roda tiga yang sudah menemani ia  sejak 2008 dan membawa dia melakukan perjalanan sejauh 1.000 kilometer dari Jakarta hingga ke Bali pada 2013. Kini di perjalanan inspiratif keduanya, dari Sabang hingga Jakarta, Sri akan menempuh jarak perjalanan  sekira 2.500 kilometer atau selama 1 bulan 10 hari.

“Sekitar 24 juta penyandang difabel di Indonesia, hanya 10 persen saja yang berani beraktifitas di luar rumah. Saya ingin memberikan semangat kepada mereka. Agar mereka berani keluar rumah,” kata Sri Lestari sebelum acara pelepasan di halaman Kantor Dinas Sosial Aceh di Jalan Iskandar Muda, Banda Aceh, Minggu (7/9).

Adalah Sri Lestari, wanita yang memilik semangat “baja” ini merupakan anak pertama dari empat bersaudara pasangan Muji Raharjo Mujiono dan Suminem yang di Kartu Keluarga tertera beralamat di Losari Rt 01 Rw 04, Kelurahan Solodiran, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Setelah 10 tahun terbaring di rumah, mengalami kelumpuhan dari pinggang ke bawah. Akibat kecelakaan yang menimpa dirinya pada usia 23 tahun. Perempuan kelahiran Klaten 10 Desember 1973 yang kehilangan kedua kakinya ini, bangkit dan mencoba mandiri dengan keterbatasan yang dia miliki. Ia pun memulai aktifitas di luar rumah. Menjadi pekerja sosial di United Celebral Palsy (UCP) Roda Untuk Kemanusiaan.

Di sini Sri terpanggil untuk menyuarakan hak-hak difabel di tanah air untuk bisa hidup dengan nyaman dan aman seperti masyarakat Indonesia lainnya yang tidak memiliki keterbatasan seperti mereka (penyandang difabel).

Pada 2013, Sri melakukan perjalan inspirasi pertamanya sejauh 1.000 kilometer dari Jakarta hingga ke Bali. Perempuan  berkerudung ini bertemu beberapa keluarga difabel di Bali. Setelah sukses menjadi inspirator bagi banyak keluarga difabel di Pulau Jawa, kemudian dia kembali lagi melakukan perjalanan keduanya selama 40 hari dengan jarak yang lebih jauh yaitu 2.500 kilometer, dari Sabang hingga ke Jakarta.

Sri Klaten tiba di Banda Aceh pada 3 September  sore dengan menggunakan pesawat terbang. Malamnya Sri bersama anggota UCP Roda Untuk Kemanusia menggelar rapat di warkop Jeep Kupi di kawasan Batoh. Di sini Sri bertemu dengan komunitas motor, anggota RAPI, dan pengurus Forum Jurnalis Perempuan Indonesia-Aceh (FJPI-A).

Membahas persiapan acara pelepasan di Kilometer Nol Indonesia di Kota Sabang pada 5 September yang rencananya dilepas oleh Walikota Sabang. Acara simbolis penyerahaan kursi roda di perayaan  Ulang Tahun RAPI di Saree, Aceh Besar pada 6 September, dan acara pelepasan di halaman Kantor Dinas Sosial Aceh pada  7 September yang dilepas oleh Kepala Dinas Sosial Aceh, Bukhari dan Walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal.

“Saya senang bisa memulai perjalanan saya dari Aceh. Aceh memberi kesan yang khusus bagi saya. Apalagi daerah ini menunjukan kepada dunia bagaimana semangat orang-orang Aceh bangkit merajut kembali kehidupan mereka, setelah gempa bumi dan tsunami yang dasyat meluluh lantakannya. Sama seperti saya yang 10 tahun dalam kelumpuhan akibat kecelakaan, bangkit dan memulai kembali kehidupan di luar rumah,” tutur Sri dengan logat yang kental Jawa.

Sri Lestari atau yang akrab dipanggil Sri Klaten ini, memiliki tujuan mulia dari perjalanannya ini. Dari penuturan Sri, dia hanya ingin memberi inspirasi dan motivasi bagi semua penyandang difabel di semua tempat yang dilaluinya nanti, baik perorangan maupun berkelompok.

Pada 4 September pagi, sekitar pukul 8.00 WIB, Sri sudah tiba dan berkumpul di depan icon Kota Banda Aceh, Masjid Baiturrahman bersama komunitas motor di Banda Aceh.Sri dengan kawalan sekitar 15 bikers motor gede dari komunitas motor yang ada di Banda Aceh menuju Pelabuhan Ulee Lheue. Dengan menggunakan KMP BRR pukul 10.00 WIB, Sri dan rombongan berangkat ke Kota Sabang yang ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam lebih.

Sri tiba pukul 14.00 WIB disambut beberapa pejabat tinggi di teras Pemko Sabang. Kemudian menuju Pendopo Walikota dan bertemu Zulkifli H. Adam. Di sana, mantan Bendahara GAM itu melihat-lihat motor modifikasi Sri. Zulkifli tertarik dan berencana akan membawa utusannya ke UCP Roda Untuk Kemanusian, belajar memodifikasi motor yang rencanannya akan diperuntukan untuk penyandang difabel di Kota Sabang.

Lewat telpon selular saya mencoba mengkonfirmasi dengan Walikota Sabang, 10 September siang, soal wancana Walikota Sabang mengirim utusan ke Jawa.  Zulkifli mengiyakan, dia menambahkan,  kalau rencana itu akan lebih dulu dibicarakan dengan anggota DPRK Sabang. Karena menurutnya penyadang disabilitas di Kota Sabang memang sangat memerlukan alat transportasi yang ramah dan nyaman bagi mereka.

Sementara itu ketika diminta tanggapan soal Sri, pria kelahiran 1975 ini spontan memuji. Dia merasa kagum dengan apa yang dilakukan Sri. Untuk itu dia sendiri meminta Sri untuk menyempatkan diri mengunjungi Feby, difabel teladan lulusan SMA yang kini menjadi guru les bagi semua mata pelajaran SD dan seorang lagi difabel bernama Muslim. Namun waktu yang singkat Sri hanya bertemu dengan Feby sedangkan dengan Muslim tidak.

Sri dimata lon urueng inoeng yang hayeu. Kamoe mantoeng awak agam hanjeut lagee jih. Jeut dijak  jeuoh deungon keuterbatasan yang na bak jih. Seumoga awak inoeng geutanyoe nyang difabel jeut geucontoh seumangat yang na bak Sri. Sri beutoi-beutoi geubri inspirasi keu kamoe, pemerintah khusus jih. Untuk leubeh padoli ngen urueng difabel. Geupeugoet sarana dan prasarana nyang mendukung dan meubri kemudahan bagi penyandang difabel nyang na di sinoe untuk mandiri.”

 (Sri di mata saya seorang perempuan yang hebat. Kami aja orang lelaki belum tentu bisa seperti dia. Melakukan perjalanan jauh dengan keterbatasan yang dimilikinya. Semoga kaum perempuan difabel di tempat kami bisa mencontoh  semangat yang ada sama Sri. Sri benar-benar memberi inspirasi kepada kami, perintah khususnya. Untuk lebih peduli dengan penyandang difabel. Membuat sarana dan prasarana yang mendukung dan memberi kemudahan kepada penyandang difabel di sini untuk mandiri).

Demikian kalimat kekaguman yang terlontar dari mulut Walikota Sabang, Zulkifli H. Adam. Mantan supir truk ini mengutarakannya kepada AcehNews.net, Rabu (10/9) via phone saat diminta tanggapannya tentang Sri Lestari, seorang perempuan penyandang difabel yang pernah menyambangi Kota Sabang pada 5 September 2014 .

Hal yang sama juga dilontarkan Walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal saat bertemu Sri pada jamuan makan malam yang diadakannya di  Banda Seafood, Ulee Lheue, Sabtu malam (6/9). Kata Illiza, Sri perempuan tangguh dari Klaten yang tidak saja memberi inspirasi bagi penyadang disabilitas tetapi juga bagi kaum perempuan di Banda Aceh.

“Mbak Sri perempuan yang luar biasa. Dengan keterbatasan yang dimilikinya tetap terus berjuang. Bukan untuk dirinya saja, tetapi untuk semua difabel yang ada di Indonesia. Apalagi beliau perempuan. Beliau mencoba mengkampanyekan bahwa dalam kehidupan ini masih ada kelompok marjinal, difabel yang perlu perhatian khusus dari pemerintah,” tutur Illiza.

Perjalanan yang dilakukannya Sri menurut Illiza sangat inspiratif, dimana membangun semangat baru kepada difabel lainnya di seluruh Indonesia umumnya dan Aceh khususnya. Menurut Illiza Pemko Banda Aceh sangat berkepetingan dengan apa yang dilakukan Sri karena Pemko Banda Aceh memiliki Qanun (Perda)  Kota Ramah Gender yang di dalamnya juga mengakomudir difabel di Banda Aceh. Diharapkan qanun tersebut akan disahkan anggota DPRK Banda Aceh perioder baru.

Illiza juga berharap Sri bisa mengumpulkan semua masukan dan permasalahan yang dihadapi para penyandang difabel di kota-kota yang dilewatinya. Sehingga bisa menyampaikan semuanya itu pada peringatan Hari Difabel Internasional yang jatuh pada Desember 2014 akan datang.

Perjalanan Dimulai dari Aceh

Perempuan yang mengecap pendidikan terakhir di Sekolah Menengah Industri Pariwisata (SMIP) 1992 di Klaten  itu memberikan senyumannya kepada siapa saja yang menyapanya di jalan-jalan yang dilaluinya. Menurut pengakuannya, Sri yang menyetir sendiri sepeda motor berplat nomor polisi AD 6918 DJ, melaju di jalan raya dengan kecepatan maksimal 60 kilometer/jam.

Sri mengenakan lengkap baret keselamatan lalu lintasnya, memakai jaket dan helm yang safety. Di atas kursi roda dia menunggang “kuda besi” yang dirakit khusus untuknya. Perjalanannya melewati tanjakan Seulawah yang dikenal sangat terjal dan berkelok, Sri menjawab tidak ada kesusahan, Tuhan memuluskan perjalanan Sri menuju Jakarta dengan melewati beberapa kota di Aceh.

“Alhamdulillah, sepanjang jalan aman-aman saja. Cuaca juga sangat bersahabat tidak hujan. Semoga akan terus seperti ini sehingga saya tiba di Kota Medan. Karena jika hujan mau tidak mau saya harus tetap jalan, sebab saya sulit mencari tempat teduh,” kata Sri, Selasa malam (9/9), setelah tiba di Kota Langsa.

Dari Kota Banda Aceh, Sri melewati jalan-jalan yang dikelilingi persawahan dan rimbunya pepohonan. Tidak ada kendaraan melaju kencang saat melewati motor yang dikendarainya. Setiap ada yang berpapasan dengan dia, pengguna jalan raya melempar senyum. Begitu cerita Sri soal keramah tamahan yang didapatinya saat melintasi jalan raya menuju Kabupaten Bireuen.

“Nggak ada yang kebut-kebutan kok. Mereka memelankan laju kendaraan dan malah menyapa saya. Ternyata mereka (orang yang ditemui dijalan) sudah mengenal saya. Katanya sudah membaca dari koran dan melihat di televisi,” cerita Sri Klaten kepada saya via phone, 9 September 2014 malam.

Sri bersama krunya singgah di Sigli Kabupaten Pidie dan kemudian melanjutkan perjalanan ke “Kota Juang” Bireuen. Di kampungnya mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf ini Sri bersama timnya menginap semalam. Namun sebelum merebahkan diri diperaduan hotel, Sri sempat berbincang-bincang dengan keluarga dan penyandang disabilitas yang berkumpul di Kantor Dinas Sosial Kabupaten Bireuen.

Mereka (penyandang disabilitas) menanyakan bagaimana Sri mampu bangkit dan mandiri melakukan aktifitas di luar rumah setelah 10 tahun terbaring dalam kelumpuhan. “Ya saya cerita apa yang saya rasakan. Saya katakan saya tidak mau mengenang apa yang sudah terjadi. Sekarang yang saya pikirkan bagaimanan saya bisa melakukan aktifitas di luar rumah, bekerja, melakukan kegiatan sosial, tanpa memikirkan lagi kekurangan yang saya miliki ini,” kata Sri.

Setelah dari Kabupaten Bireuen, Sri dan rombongan, ditemani ponaannya bernama Agung, satu orang supir, dan tiga kru dari LSM Bumi Hijau yang mendokumentasikan perjalanan inspiratif kedua Sri Klaten. Sri akan mengunjungi banyak keluarga yang memiliki  penyandang difabel. Kemudian dia bercerita dan memberi motivasi kepada sesama difabel.

“Saya ingin memotivasi mereka. Masih banyak difabel yang tidak memiliki akses, bahkan tidak berani keluar rumah. Melalui perjalanan kedua saya ini, dari Sabang ke Jakarta saya ingin menyadarkan banyak pihak terutama pengambil dan pembuat kebijakan agar membuat fasilitas umum yang ramah terhadap difabel di daerah mereka,” ujar Sri sebelum acara pelepasan perjalanan inspiratif dari halaman Kantor Dinas Sosial Provinsi Aceh, Minggu (7/9) di Banda Aceh.

Pada 9 September sore, Sri bersama rombongannya tiba di Kota Langsa sesuai rencana. Dia menginap dan beristirahat di sana. Merebahkan kepenatan di pekatnya malam kota yang bertetangga dengan Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Tamiang. Sebelumnya perempuan berkerudung ini juga pernah menyinggahi Bireuen, Sigli (Pidie), dan Kota Lhokseumawe.

Di kota ini, Sri singgah dan bertemu pelajar SMK 4. Sama seperti pertanyaan sebelumnya. Para pelajar yang tidak memiliki kecacatan ini banyak bertanya soal kisah hidup Sri, sehingga akhirnya perempuan yang sama bulan dan tahun kelahiran dengan Walikota Banda Aceh ini memiliki keberanian untuk melakukan perjalanan jauh dengan sepeda motor.

“Anak-anak tanya bagaimana saya bisa mandiri. Saya ceritakan, jika saya melakukan aktifitas di luar rumah, bekerja naik dan turun motor pakai kursi roda sedangkan mereka pakai kaki. Mereka juga tanya tentang penyebab saya lumpuh, saya ceritakan tentang kecelakaan  itu, saya pun berpesan agar anak-anak itu hati-hati saat di jalan raya. Saya juga meminta mereka agar fokus, rajin belajar, dan disiplin,” pesan singkat Sri kepada siswa dan siswi SMK 4 Lhokseumawe.

Motor Modifikasi Sri

Sudah sekira 492 kilometer, perjalanan dari Banda Aceh ke Kota Langsa yang ditempuhnya dengan mengendarai sepeda motor yang dimodifikasi khusus oleh Yunanto, pekerja di salah satu bengkel di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Motor rakitan Yunanto itu menelan biaya sekira Rp4,5 juta, biaya itu didapatkan Sri dari sponsor. Sedangkan luas motor yang dirancang selama sebulan itu memiliki luas sekira 1,2 meter dan panjang 1,5 meter.

Sepeda motor ciptaan Yunanto, terdapat tempat dudukan kursi roda Sri dan dibelakang dibuatnya pintu yang bisa dibuka saat Sri akan naik dan turun dari sepeda motor dengan kursi roda yang sudah menyatu dengan Sri.

Sri duduk di atas kursi roda menyetir  sendiri motornya. Sepeda motor yang mulai dikendarai Sri pada 2008 itu memiliki dua bodi, satu untuk tunggangan Sri dan satu lagi untuk boncengan. Kedua bodi tersebut memiliki kepala dengan lampu-lampu yang bersinar terang saat malam hari. Namun demi kesehatan dan keselamatan Sri memilih tidak melakukan perjalanan pada malam hari. (Saniah LS)

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com